Pukul lima pagi komplek itu sudah dikejutkan oleh suara Vesva menderung-derung seperti suara nenek-nenek yang menjerit karena marah. Semua burung pipit gelisah dalam sarang-sarang mereka, seluruh penghuni komplek itupun terpaksa bangun mendadak, semua orang sudah tahu siapa pelakunya, namun tak ada yang mau keluar untuk memarahi agar jangan berisik, karena itu percuma saja, seribu satu alasan pasti terucap dari pemilik Vesva merah itu kalau sudah ada yang menegur aktivitasnya.
“Aduh Egi!!!! Bisa kecilkah enggak suara Vesva bututmu itu! Teriak Mama keluar dari rumah termewah di komplek itu.
“Tanggung nih Ma, belum panas” Egi balas teriak.
“Sampai kapan sih kamu mempertahankan Vesva butut ini? Kata Mama lagi dengan suara jengkel.
“Sudah berapa kali Egi katakan Ma, seumur hidup” Jawab Egi nyengir.
Mamanya kembali masuk ke dalam rumah, percuma nasehatin anaknya yang menurutnya rada-rada aneh, kurang normal, atau terlalu normal. Egi memang salah satu anak yang cukup aneh, dia anak orang kaya, Mama dan Papa beberapa kali menawari untuk membelikan motor baru, terserah merek apa, model bagaimana, tapi Egi selalu menolak, dan memilih Vesva tua miliknya yang sudah dimodif sana-sini, tapi tetap saja terlihat udzur dan selalu payah kalau mau di hidupkan.
“Gi, sudah berapa kali Mama katakan, kalau pagi-pagi itu jangan dulu hidupkan motor, kasiankan para tetangga keganggu, suara Vesva merah kamukan bisa membuat gempa” Kata Mama waktu mereka berkumpul untuk sarapan pagi, Bi’Ijah hilir mudik nyiapkan sarapan dari dapur.
“Ia tuh, Mas Egi, rongsokan masih dipaksain hidup, kasiankan makin menderita, sudah waktunya pengsiun dan masuk mesium” Kata Lili, rambut kucir duanya sering Egi Jewer kalau dia jengkel terhadap adiknya yang manja itu.
Baru saja Egi hendak berargumen, namun Papa keburu muncul “Wah,, asik disksi nih” Kata Papa muncul dari arah kamar dengan pakaian super rapihnya, siap menuju kantor.
“Biasa Pah, Vesva Mas Egi buat masalah” Kata Lili, Papa hanya tersenyum.
“Vesva itukan kesayangan Egi, lagian jam lima subuh itu waktunya bangun semua, tanpa terkecuali, jadi suara Vesva itu anggap saja sebagai lonceng peringatan” Jawab Egi mulai menyuapkan nasi gorong buatan Bi’Ijah.
“Kamu itu, kalau dinasehati selalu saja jawab” Kata Mama.
“Ia tuh Mas Egi” Kata Lili ikut-ikutan.
“Ye.., kamu juga Li, selalu saja ikut-ikutan, dilap dulu tuh ingus kamu” Jawab Egi memandang adiknya yang melotot karena marah, Egi malah nyengir.
“Sudah kelas dua SMP, mana ada ingus” Jawab Lili.
“Itu apa, di bawah hidung kamu” Kata Egi sambil menunjuk dengan sendok yang dipegangnya, kemudian ia terkekeh saat adiknya mengusap bawah hidung dengan tangan kirinya.
“Mas Egi Rese’ Kata Lili manyun.
“eh..eh..eh, sudah-sudah, malah berantem” Kata Mama menengahi, Papa hanya tersenyum melihat ulah kedua anaknya.
“Kamu belum tertarik dengan tawaran Papa mengenai Motor baru” Kata Papa.
“Enggak Pa, Egi tetap pecaya pada Vesva merah kesayangan Egi, dia masih kuat jalan kok.
“Ya, baguslah kalau begitu, jadi Papa tidak usah repot-repot ngeluarkan uang”
“Papa memang pelit sih” Kata Mama.
Tidak berapa kemudian, semuanya bubar meninggalkan meja makan, Papa pergi kekantor dengan sedan mewahnya, sekalian nganterin Lili ke sekolah, Mama kembali masuk ke kamar, siap-siap dandan, karena jam delapan ia harus mengawasi salon kecantikan kepunyaannya, Bi’Ijah kembali sibuk merapikan meja makan, dan Egi kini sudah berada di atas Vesva merahnya, bersiap berangkat kesekolah, rambutnya dibiarkan kusut, bahkan mungkin tak disisir, cukup disisir dengan jari aja, orang keren walau bagaimanapun tetap keren, pikirnya tersenyum pada diri sendiri melalui kaca sepion Vesvanya. “Baiklah Sobat, kita berangkat” Teriak Egi, orang-orang yang memandangnya hanya geleng-geleng kepala.
Sesampainya di sekolah, teman-teman Egi sudah menunggu di depan gerbang. “Pangeran Vesva datang” Kata Maxsel sambil terkekeh, Egi malah sengaja meliuk-liuk kan Vesva merahnya, nyengir sebelum akhirnya turun, rambutnya acak-acakan, itulah resiko naik motor tanpa helm, selain cemas takut di uber polisi.
“Vesva mu masih kuat jalan Gi” Kata Kiko, Cici si tomboi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala menatap Egi.
“Jelas kuat, kenapa emangnya, kok kalian pasang wajah sedih kaya begitu” Kata Egi sambil memarkirkan motornya.
“Kita bukan sedih, tapi heran sekaligus prihatin sama kamu, anak orang kaya, minta belikan mobil juga mungkin bisa, tapi malah memilih Vesva udzur begini” Kata Maxsel, remaja keturuan, Egi menyebutkan si bocah tidak jelas. Kakek dari ibunya orang Jerman, sedangkan neneknya sunda Asli, bapaknya Pontianak asli, tapi anaknya gak tau asli atau bukan, yang pasti hanya rambutnya aja yang pirang, badanya hitam legam.
“Bener banget Lo Max” Kata Kiko, remaja dekil tapi cerdas, sifat pemalasnya mengalahkan siapapun, bahkan untuk mandi aja kadang kala ia malas.
Ketiga orang ini memang akrab dari SMP, sampai sekarang sudah kelas dua SMA, namun bertambah satu, Cici, si tomboi seksi, dia anak baru, pindahan dari Bandung. Tidak tau kenapa, Cici lebih suka gabung dengan ketiga makhkluk itu, jadilah mereka berempat.
“Aku justru salut sama kamu Gi, orang kaya yang berjiwa Miskin, hehehe..” Kata Cici.
“Itu namanya Prinsip Bro, gak ada gunanya mewah-mewah di sekolah, Cuma nunjukin kekayaan orang tua, kitakan terlahir miskin, gak punya apa-apa, jadi sebelum bisa menghasilkan sendiri, kita tetap miskin, bahkan aku belum yakin seandainya tiba-tiba aku harus merantau dan pisah dari orang tua, apakah bisa makan atau tidak, itu tandanya kita tidak punya apa-apa” Kata Egi so’ bijak.
“Jadi nyinggung nih” Kata Maxsel sambil menepuk-nepuk jok MXnya.
“Hehehe.. itu hanya prinsipku saja, mungkin salah, kalian jangan ikut-ikutan” Kata Egi.
“Ku rasa benar apa yang kamu katakan” Kata Cici antusias.
“Pangeran Vesva, dua jempol untuk mu Gi” Kata Kiko nyngir.
Suara serak bel sekolah akhirnya menjerit, semua anak-anak berlari menuju kelas masing-masing, Egi dan ketiga temannya tetap santai, setelah sepuluh menit berlalu, baru mereka berjalan menuju kelas, kebiasaan yang tidak patut ditiru, tapi begitulah remaja.
Setelah lama ditunggu, akhirnya waktu itu tiba juga, entah yang keberapa kalinya bel sekolah itu dipaksa berbunyi, dan sepertinya ini yang terakhir, seluruh wajah kusut itu tiba-tiba berubah hingar bingar kembali begitu jam pulang tiba, semua anak berlomba untuk meninggalkan sekolah kecuali Egi, bajunya sudah basah oleh keringat, hampir satu jam ia coba menghidupkan vesva merahnya, namun belum juga hidup.
“sudahlah Gi, tinggalkan saja, besok ngurusnya, nebeng sama aku saja” Kata Maxsel berbaik hati, gak tega juga lihat temannya mandi keringat.
“Nebeng sama aku juga bisa” Kata Cici dengan Vario terbarunya.
“Betul Bro, ditinggal disekolah juga tu vesva gak bakalan ada yang tertarik nyuri, apalagi tidak bisa jalan begitu, hehehe..” Kata Kiko.
Namun kebaikan teman-temannya tadi ditolak secara halus oleh Egi, dan kini setelah ketiga temannya akhirnya memutuskan untuk pulang duluan, terlintas rasa menyesal dibenak Egi, kalau nebeng dengan Maxsel, atau Cici, mungkin ia kini sudah sampai rumah, pikirnya. Namun dengan cepat pikiran itu di tepisnya, bagaimanapun juga, Vesva merah adalah pilihannya, dan itupula satu-satunya barang kesayangannya.
“Ayolah sobat, aku percaya kamu bisa” Kata Egi bicara sendiri, seorang Vesva itu bisa mendengar ucapannya, Egi terus mencoba menghidupkan Vesva itu, namun lagi-lagi Vesva tak juga menderung.
Entah yang keberapa puluh kalinya, akhirnya Vesva itu hidup juga, bukan main girangnya hati Egi. “Nah gitu dong, Sory aku telah meragukan kemampuanmu, ayo jalan sobat” Kata Egi menepuk bagian depan Vesva merahnya.
Akhirnya Egi bisa juga meninggalkan gerbang sekolah, tidak apa-apalah mandi keringat dikit, pikirnya menghibur diri.
Udara panas kota Pontianak membuat debu-debu beterbangan, bercampur dengan asap kenalpon membuat suasana semakin pengap, tiba-tiba saja sepanjang jalan Ahmad Yani macet total, Egi harus menaikan motor ke trotoar jalan untuk bisa mendahului mobil-mobil yang berjejer tak beraturan.
Kecelakaan, itulah penyebab kemacetan itu terjadi, kini Egi harus menghentikan Vesva merahnya, karena jalan benar-benar tidak bisa di lalui, bahkan trotoarpun dipenuhi oleh motor. Tidak disangka-sangka, Egi melihat Cici, ternayata tuh anak juga sedang berlomba menyaksikan ramai-ramai kecelakaan itu terjadi.
“Ci, ternayata kamu masih di sini” Kata Egi menepuk pundak Cici. Yang ditepuk berpaling kaget, wajahnya pucat.
“Egi!! Ya ampun Gi, Maxsel dan Kiko…” Suara Cici terputus.
“Kenapa dengan mereka? Tanya Egi kurang mengerti.
“Aku melihatnya Gi, Ya Tuhan” Kata Cici menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Maxsel dan Kiko kebut-kebutan, Maxsel menabrang mobil Truk dari arah berlawanan, Kiko sempat berhenti di tengah jalan, tapi mobil kijang menabraknya” Kata Cici meneteskan air mata.
“Ya Tuhan” Kata Egi, seakan tak ada kata lagi yang dapat terucap dari Egi, ia hanya memikirkan seandainya saja ia ikut nebeng dengan Maxsel atau Kiko, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya, dalam hati Egi bersyukur masih ada Vesva merahnya. “Tapi mereka tidak apa-apakan? Tambah Egi.
“Mereka luka parah, dan dibawa ke rumah sakit, sedangkan motor keduanya rusak berat, mobil truk dan kijang itulah yang membuat macet” Kata Cici.
Akhirnya Egi memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit, awalnya Cici mau ikut, tapi Egi menyarankan Cici untuk pulang dulu ke rumah.
Maxsel dan Kiko, keduanya terbaring lemah dalam satu ruangan, Kiko mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya, tapi tidak mengalami patah tulang, Maxsel bibirnya pecah, gigi depannya tanggal tiga, Egi sedikit prihatin memandang kedua sobatnya saat terbaring tak berdaya.
“Ini belum seberapakan Bro? Kata Egi menatap Kiko dan Maxsel bergantian.
“Kiko tersenyum dalam lemahnya, Maxsel juga mencoba untuk tersenyum, tapi mulutnya benar-benar tak bisa digerakan.
“Kayanya kalau aku sembuh nanti harus beli Vesva merah juga” Kata Kiko meringis. “Tapi untuk sementara, aku boleh nebeng di Vesvamukan Gi” Tambahnya.
“Tentu bisa, bahkan Vesvaku masih kuat untuk tanjal tiga, jadi jangan khawatir” Jawab Egi tersenyum. Maxsel hanya mencoba untuk mengangguk, sepertinya ia setuju.
“Cepat sembuh ya Max, kita bertiga nanti bisa balapan lagi, tapi syaratnya harus Vesva merah semkuanya, sepertinya bakalan seru tuh, tiga Vesva merah kebut-kebutan di jalan” Kata Egi nyengir.
Akhirnya Egi pamit pulang setelah kedua orang tua Maxsel dan Kiko datang.
“Ayo sobat, kita pulang, maaf aku tadi benar-benar meragukanmu, dan kini aku benar-benar percaya, bahwa kau memang sobat setia” Kata Egi kembali menepuk bagian depan Vesva merahnya.