Sabtu, 05 Juni 2010

kedua sayapku telah patah

Aku ingin terbang bebas tanpa batas, menyusuri langit, ku habiskan waktu ku untuk menikmati dunia dari angkasa, terus terbang tinggi, tak ada rasa lelah ku, karena keindahan bisa menghapus semuanya. Aku bahagia memiliki sayap, aku lebih beruntung dari manusia manapun, aku bisa terbang dan bermain dengan awan putih, terkadang aku meraih indahnya pelangi, memainkan serbuk bintang yang bertaburan. Aku ingin sekali membawa temanku terbang, ingin menunjukan betapa bahagianya di saat-saat terbang di angkasa. Di kala hati gundah, dikala keresahan yang menuntutku untuk marah, maka hanya terbanglah sebagai satu-satunya pengobat kemarahan ku, aku ingin bermain dengan burung-burung, dengan kelelawar-kelelawar malam, tapi mereka terlalu takut melihatku, mungkin aku terlalu besar untuk ukuran mereka, aku jadi selalu terbang sendiri, dan aku sadari kesendirian ini terkadang menyakitkan, tapi jika aku katakan kepada temanku tentang kemampuanku untuk terbang, mereka akan mengatakan aku gila, dan anehnya di depan mereka sayapku tak bisa mengepak, ia tetap sembunyi di balik bajuku dan teman-temanku pasti akan menertawakanku.
Aku berlari dan terus berlari, ketika jauh dari teman-temanku, aku mendapati diriku terbang di angkasa lagi, sayapku bergerak meski tanpa aku gerakan, kecepatan terbangku melebihi burung-burung, kedua sayapku lebih indah dari kupu-kupu manapun. Di sini, di angkasa tempat aku berdiam diri, aku bisa melihat semuanya, aku bisa melihat orang-orang bahagia, aku bisa melihat orang-orang menderita, tersiksa oleh kekejaman kehidupan, aku juga bisa melihat jiwa-jiwa manusia resah, mereka menengadah ke arah langit dan tepatnya mereka menatapku, tapi anehnya mereka seakan tidak melihat keberadaanku, tatapannya kosong, hanya berharap temukan jawaban dari kekuasaan di langit ini, mereka orang—orang bodoh pikir ku, mereka mengira langit dapat memberikan jawaban, mereka mengira langit dapat memberikan ketentraman, padahal langit tidak ubahnya seperti mereka sendiri, semuanya dalam keresahan, keresahan sambil menunggu datangnya hari yang dapat menghancurkan itu, hari di mana punahnya alam raya ini, aku lebih mengetahui tentang langit, aku lebih menyadari semuanya karena setiap hari ku habiskan waktuku bermain dengan awan-awan putih dan warna pelangi, jadi aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh langit, oleh matahari, oleh bulan dan bintang, mereka semua resah, sampaikapan tugas mereka akan berakhir, mereka telah bosan menerangi dunia, mereka bosan menerangi malam.
Aku terus terbang dengan kedua sayapku, menghampiri orang-orang yang terbaring dalam derita, orang-orang yang tersisihkan dari kemegahan dunia, orang-orang yang dipenuhi dengan luka batin dan luka badan, di manakah orang-orang kaya itu? Di manakah pejabat-pejabat tinggi itu? Mereka tertawa di rumah mewah, mereka menikmati hidangan-hidangan dunia, mereka berjalan dengan mobil-mobil indah, mereka berkumpul menikmati permainan-permainan bodoh yang menghabiskan waktu. Sementara di sini, di temani pelita yang semakin redup, ditemani lalat dan nyamuk yang terus menghisap darah, mereka terduduk dalam lamunan, terbaring dalam penderitaan, setiap hembusan nafasnya terasa berat, setelah seharian berada di atas tumpukan sampah yang menyengat, hingga aroma tubuhpun tidak bisa dibersihkan dari bau sampah-sampah busuk, itulah mereka, aku menghampiri mereka dengan air mata menetes, sayapku kelu, mereka tidak menyadari kehadiranku, mereka terlalu hanyut dalam renungan-renungan malamnya, dengan nafas-nafas sesaknya, aku terus berjalan melewati mereka, aku mendapati seorang bocah yang lagi terduduk, tangannya dilipat di atas kedua lututnya, nampaknya ia terisak, aku menghampirinya lebih dekat, bocah kecil menghentikan isakannya, ia mendongakan kepala menatapku. “Apa yang membawamu datang ke sini“ suaranya membuat aku terkejut, semua orang tidak bisa melihatku, tapi mengapa bocah ini tau kehadiranku, aku tersentak tak mengerti, aku hendak menjawab pertanyaannya, tapi bocah itu seakan tidak memberi kesempatan untuk berbicara. “Kau bebas terbang dengan kedua sayapmu, tanpa derita, bahkan kau hanya bisa melihat indahnya dunia di atas sana, kau tidak memperdulikan kami, atau kedatanganmu hanya untuk menertawakan kami di sini, lihatlah luka kami yang dikerubungi lalat, lihatlah pakaian kami yang kumal dan compang-camping, lihatlah badan kami dekil, lihatlah makanan kami roti-roti basi yang telah dibuang pemiliknya, sementara kau, kau hanya bisa terbang di atas penderitaan kami, kau tidak memperdulikan kami, kau hanya menyibukan diri untuk memamerkan kedua sayapmu, kau hanya ingin semua orang tau kalau kau bisa terbang, dan semua orang memujimu, bahkan kau ingin mereka bersujud padamu. Kenapa kau datang? Apa hanya sekedar ingin melihat luka, hanya ingin melihat air mata saudaramu ini terus menetes, pergilah.... pergilah ke alammu di langit sana, aku tidak butuh kehadiranmu, kau makhluk bersayap yang hanya mementingkan dirimu sendiri“.
Suara anak kecil itu menggema, orang-orang menatapnya tak mengerti, aku sendiri masih mematung, aku seakan tersihir menjadi seonggok batu yang tak berarti, aku tak berdaya, sungguh tak berdaya, bahkan sayapku semakin kelu, tiada kata yang dapat aku ucapkan, kini aku sadar siapa diriku, mungkin benar perkataan bocah itu, aku hanya makhluk bersayap yang terbang di atas penderitaan mereka, tiba-tiba sayap ku retak, tanpa bisa ku cegah ia terjatuh dari punggungku, ya.. kedua sayapku patah, jatuh ikut menjadi sampah yang tertumpuk di bawah kakiku, aku sadar, sangat sadar, aku terlalu lama terbang, hingga tak mempedulikan lagi derita orang-orang, derita bocah yang berada di depanku.
“Mengapa kau biarkan sayapmu patah? Bukankah sayap itu yang selalu kau banggakan“ teriak bocah itu masih dengan kemarahan.
“Baiklah sobat kecil, aku tidak memerlukan sayap itu lagi, aku tak ingin terus terbang dan melupakan kalian di sini, jadikan aku sebagai teman kalian, aku ingin menyelami penderitaan seperti kehidupan kalian semua, sudah terlalu letih aku terbang, namun yang aku dapatkan hanya kehampaan yang sia-sia, hidupku tidak berarti, meskipun berjuta keindahan yang aku dapati, namun kesunyian itu jauh lebih tersiksa dari penderiaan manapun, aku ingin di sini, di sini bersama kalian, karena aku yakin hanya tempat inilah yang dapat memberi kesadaran jiwa“ jawab ku membuat sang bocah tertegun, ia tersenyum dan berkata. “Kalau begitu kau makhluk terbodoh yang pernah aku temui“ aku tidak peduli dengan sebutan bodoh yang pernah diucapkan bocah itu, kini kedua sayapku telah patah, dan aku menyadari patahnya sayapku berarti berakhirlah seluruh pertualangan terbangku, tapi aku bahagia hidup di sini, hidup dalam derita, karena hanya dengan deritalah maka aku akan merasakan rasa bahagia “Orang tidak akan pernah tau bagaimana rasanya manis kalau selama hidupnya tak pernah merasakan rasanya pahit“ dan aku percaya akan hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar