Senin, 07 Juni 2010

Pasir Putih


Pantai, itulah tempat yang selalu aku rindukan. Entah mengapa biru laut menjadi pesona tersendiri untukku, mungkin benar kata orang, ada kalanya laut bisa menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, contohnya sudah banyak, cerita kapal tenggelam, gelombang tsunami di Aceh, dan masih banyak lagi kengerian yang dijanjikan laut, tapi aku tidak perduli, laut tetaplah laut, dan pantai adalah tempat terindah selain puncak-puncak gunung.

Pukul sepuluh pagi, aku sengaja turun dari mobil di simpang Pasir Panjang, bus yang ku tumpangi dipenuhi oleh sesak penumpang membuat badanku terasa kaku karena harus berdiri sepanjang perjalanan, akhinya aku turun dengan kondisi sempoyongan, tapi bila sudah membayangkan pantai, kesegaranku akan segera kembali.

Aku sudah terbiasa bebas melangkah ke manapun aku mau, asal cukup ongkos, perjalananlah yang kupilih untuk melepaskan segala kegundahan, dan aku benar-benar menikmatinya, dari kecil aku sudah dididik menjadi pribadi yang mandiri, yang harus siap melangkah menghadapi semua persoalan seorang iri, tak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan selain kematian, itulah prinsipku, aku berhutang banyak kepada ayahku, yang telah mengajariku bagaimana seharusnya menggunakan kedua kaki sehingga benar-benar bemanfaat untuk jalan hidup.

Jalan kaki dari simpang Pasir Panjang menuju pantai lumayan cukup jauh, dan baru kali inilah aku mencobanya, biasanya aku nebeng sama teman pake motor, atau ikut carter langsung dengan Bus, tapi hari ini aku ingin menggunakan kakiku sebagai satu-satunya alat untuk berjalan.

Dua buah sepeda motor lewat di sampingku, cewek-cewek manis berboncengan tesenyum ngejek.

“Keringatnya dilap bang” Kata salah satu dari mereka memperlambat motornya.

“Mau dilapin enggak?” kata cewek yang satunya.

Sial benar, pikirku, cewek-cewek belasan tahun, paling-paling mereka masih duduk di bangku SMA. “Boleh kalau kalian mau ngelapin keringat, syaratnya salah satu dari kalian harus menjadi pacarku” Jawabku nyengir.

“Huh, siapa yang mau, nanti disuruh nemenin jalan kaki”

“Bukan hanya nemenin jalan kaki, tapi aku minta gendong sekalian” Jawabku.

“Kebalik kali bang, seharusnya kita-kita yang minta gendong” Kata cewek yang rambut panjang.

Mereka kembali mempercepat laju motornya, setelah sengaja ngopling dan narik gas sehingga mengeluarkan asap hitam dari kenalpot motor mereka, cewek-cewek sialan, pikirku, sepertinya mereka sengaja mempermainkanku.

Kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya aku bisa melihat pantai, angin laut dan gemuruh ombak membuat semangat langkahku semakin menggebu, tawa anak-anak pantai memaksaku untuk tersenyum sendiri. Puluhan bahkan mungkin ratusan motor diparkir dengan rapi, mobil-mobil pribadi juga cukup banyak, musim liburan anak-anak, Pasir Panjang menjadi tempat faforit untuk bertamasya.

Aku memilih sebuah pendopo yang tidak ditempati orang, menatap hamparan pasir putih yang memanjang luas, batu-batu berjejer masih seperti dulu, puluhan anak muda seusiaku asik bemain dengan ombak, tentu dengan pasangan-pasangan mereka, betapa membahagiakan memang kalau pergi ke pantai berdua dengan seorang kekasih, aku juga terkadang memimpikan suasana seperti itu, tapi entahlah, aku lebih suka berjalan seorang diri.

Lamunanku buyar oleh suara bus yang lewat di belakangku, riuh para penumpangnya membuat suasana pantai semakin meriah, mobil carteran, penumpangnya luber sampe ke atas, wajah-wajah kusut namun bahagia terpancar di setiap penumpangnya. Satu persatu mereka turun dan mulai berpencar mencari tempat masing-masing, ada yang memilih berdua, bertiga bahkan bergerombol menuju bebatuan. Aku kembali hanyut dengan lamunanku, mencoba menikmati setiap belayan angin pantai yang benar-benar membuat jiwaku terasa damai.

Aku berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan riak air laut menampar kakiku, jin lusuh telah ku gulung hingga betis, tapi tetap saja air berhasil mencapainya, aku memungut sebuah batu dan melemparkannya kembali ke arah laut, aku hanya bisa tersenyum sendiri.

Aku terus berjalan mengikuti arah langkahku sendiri, tanpa sengaja aku melihat seorang wanita berjilbab panjang berjalan terseok-seok sekitar 50 meter di depanku, sepertinya ada masalah dengan kaki kirinya, ia berhenti sejenak, menatap ke arah laut lepas, kedua tangannya direntangkan ke atas, kemudian di turunkan kembali, wanita yang anggun, entah mengapa aku jadi memperhatikan dia, aku berjalan perlahan ke arahnya, mencoba merangkai kata yang tepat untuk bisa menyapanya, namun tawa ketiga bocah pantai yang berlari di depanku dan bergumul bersama ombak membuat sejenak aku melupakan gadis berjilbab itu.

Katiga bocah itu begitu asik bermain, aku jadi ingin seperti mereka, membayangkan masa kecilku yang tidak terlalu bahagia, ah.. aku jadi melamun ke masa lalu. Dua dari ketiga bocah itu berlari ketika ada mamang Es krim lewat, keduanya berlomba sambil tertawa ceria, sedangkan bocah yang satunya tertegun memandang kedua temannya, raut kesedihan terpancar diwajah lugu itu, kemudian ia memilih berlari ke arah ombak, hatiku sedikit tersentuh.

Baru saja aku berniat berjalan ke arah anak itu, gadis berjilbab di depanku telah mendahuluiku, gadis itu tersenyum ke arah bocah lugu itu, entah apa yang mereka bicarakan, namun sejenak kemudian, bocah itu berlari menyusul kedua temannya, wajahnya berseri penuh dengan keceriaan. Ah.. bidadari baik hati, pikirku.

“orang baik memang selalu ada di mana-mana” Itulah yang dikatakan Roy, Tokoh fiksi karya Gola Gong, tokoh novelis yang sangat aku kagumi.

Gadis itu berjalan kembali, masih terseok-seok seperti tadi, aku kembali mengikutinya, perlahan sambil pura-pura menatap ke arah laut, entahlah, aku jadi segan untuk menegurnya, aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh, mengagumi setiap keanggunannya, kekurangan yang ku lihat justru sebagai kelebihan dari seorang gadis berjilbab.

Tidak terasa hari begitu cepat berlalu, matahari malu-malu berjalan ke arah barat, angin laut semakin kencang menerpa rambutku yang kian kusut, aku harus segera melangkahkan kaki meninggalkan pantai, mencari tempat yang baik untuk ku singgahi, mushola atau mesjid-misjid sebagai tempat menginap satu malam ini. Hamparan pasir putih, setidaknyta telah memberiku satu arti tentang kehidupan, ketiga bocah dan sosok gadis berjilbab yang berjalan terseok-seok melintasi anganku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar